Jumat, 23 Oktober 2009

GIGI HITAM , black teeth

Saksikan atraksi seni dan budaya suku DAYAK, setiap hari minggu jam 14.00 s/d 15.00 di Lamin Pampang, 20 menit dari terminal Lempake Samarinda.
Warga Dayak beranggapan bahwa gigi hitam adalah cantik. Semakin hitam gigi, semakin baik. Alasannya untuk ini adalah bahwa dengan gigi hitam tidak terlihat oleh roh-roh, sehingga mereka mempercayai bahwa mereka telah terhindar sebagai bahaya dan dapat menjaga diri mereka sendiri.

Penghitaman dilakukan dengan pencelupan dengan membuat pasta dari daun tertentu yang mengandung tannin, dan erth whichin sangat kaya zat besi. Pasta ini menempel di gigi dan disimpan disuatu tempat sepanjang malam dengan sepotong daun pisang. Tannic asam tersebut yang membentuk warna gigi gigi. ( oleh frans aso )

—> The Dayaks find black teeth beautiful. The blacket the teeth, the better. The reason for this is problaby that black teeth are invisible to the spirits, who are thus led to suppose that they have been pulled out and offered as sacrifice to themselves.

The dyeing is done by making a paste of certain leaves containing tannin, and erth whichin very rich in iron. This paste is plastered over the teeth and kept in place all night by a piece of banana leaf. The tannic acid formed discolours the teeth. ( by frans aso )

KAWIN ADAT DAYAK

Saksikan atraksi seni dan budaya suku Dayak, setiap hari minggu jam 14.00 s/d 15.00 di Lamin Pampang, 20 menit dari Terminal Lempake Samarinda.
Seiring dengan arus modernisasi, maka tradisi dan budaya terkadang mulai tersamarkan bahkan terkikis ouforia berlabel modern. Hal tersebut juga tengah menimpa masyarakat Dayak, terutama yang telah tinggal diperkotaan. Sebagian besar dari mereka justru telah meninggalkan tradisi tersebut.

Disinilah keberadaan Desa Budaya Pampang menjadi teramat penting dan sentral sebagai Desa Cagar Budaya Suku Dayak Kenyah. Di tempat ini dengan segala kesederhanaan masyarakat dayak Kenyah berjuang mempertahankan tradisi dan budayanya. Selain atraksi kesenian rutin yang dilakukan setiap hari minggu, setiap acara pernikahan, akan selalu ditutup dengan ritual pernikahan adat.

Acara Pernikahan Adat ini masih dirasa penting oleh warga Pampang untuk mempertahankan tradisi leluhur. Biasanya dalam Pernikahan Adat akan diawali dari rumah mempelai berupa arak-arakan menuju Lamin (Rumah Pamjang tempat acara nikah adat). Sesampai di depan Lamin akan disambut oleh sederetan penari dan tetua suku, untuk dilakukan ritual penyambutan memasuki lamin sebagai syarat agar acara dapat berlangsung dengan baik dan lancar. Setelah itu mempelai akan diarak naik kedalam Balai Lamin untuk mengikuti acara puncak ritual nikah adat. Acara Nikah adat akan dipimpin oleh para Tetua Suku.

Setelah ritual selesai, acara akan diakhiri dengan atraksi tarian. Disini kedua mempelai dan keluarga mempelai diwajibkan untuk menyumbangkan tarian sebagai wujud suka cita. Setelah tarian selesai maka kedua mempelai akan diarak kembali menuju rumah. (oleh frans aso ) …

—-> Wedding Ceremony Dayak Kenyah,
Along with the current modernization, the traditions and culture began masked sometimes ouforia labeled eroded even modern. It would also override the Dayak community, especially those who have lived the cities. Most of them actually have to leave tradition.

Culture Village is where the existence of Pampang become extremely important and central as the Heritage Village Dayak Kenyah tribe. In this place with all the simplicity dayak Kenyah communities struggling to maintain tradition and culture. In addition to arts attractions routinely conducted every day of the week, every wedding, will always be closed with the customary marriage rites.

Traditional wedding event is still considered important by the citizens Pampang to maintain ancestral traditions. Usually in the Wedding Ceremony will be preceded by the bride’s house in the form of the procession to the Lamin (Long House where traditional marriage ceremony). Arriving in front of the Lamin will be greeted by an array of dancers and tribal elders, to be entered Lamin welcoming ritual as a condition for the event can go well and smoothly. After that the bride would be led into the Hall Lamin up to attend summit customary marriage rites. Marriage custom event will be led by Tribal Elders.

After the ritual finished, the event will end with a dance attractions. Here the bride and the bridegroom’s family is required to contribute a dance as a form of joy. After the dance is complete then the bride would be led back to the house. (by frans aso) …

Kepala Adat

Saksikan atraksi budaya Dayak setiap hari minggu jam 14.00 s/d 15.00 di Lamin Pampang, 20 menit dari terminal Lempake Samarinda.

Kepala Adat / Kepala Suku, dalam tradisi kehidupan masyarakat Dayak menjadi sosok yang lebih dihormati daripada tokoh pemerintahan seperti RT atau Lurah. Kepala Adat menjadi tokoh sentral dalam kehidupan masyarakat adat.

Segala permasalahan yang timbul ditengah masyarakat, akan terselesaikan apabila kepala adat turun tangan. Biasanya Kepala Adat akan dipilih dari orang yang memiliki keturunan bangsawan.

Penghormatan terhadap kepala Adat akan dilakukan oleh warga bahkan sampai dengan saat kepala Adat tersebut meningal dunia. Upacara dan ritual adat akan dilakukan secara besar besaran melibatkan seluruh warga. Hal tersebut masih terjadi di desa budaya Pampang.

Pada saat kepala Adat meninggal dunia, akan disemanyamkan di Balai Lamin Adat, jenasah akan disemayamkan selama beberapa hari dengan tujuan menunggu kedatangan sanak keluarga dari berbagai daerah di pedalaman Kaltim. Selama berhari-hari masyarakat secara bergotong royong bahu membahu mempersiapkan tempat pemakaman, upacara pemakaman dan peti jenasah. Peti jenasah dibuat dari gelondongan kayu ulin besar yang di beri lubang ditengahnya dan bagian luarnya akan diukir. Sementara di lokasi pemakaman disiapkan rumah dari kayu ulin beratap sirap untuk melindungi lubang kubur, juga disiapkan nisan terbuat dari gelondongan kayu ulin yang diukir.

Pada waktu yang telah dijadwalkan , jenasah/peti jenasah akan diletakkan diatas rangkaian puluhan batang bambu dan diangkat oleh ratusan warga. Ritual acara pemakaman akan dipimpin oleh orang khusus dan beberapa pendeta. Selama arak-arakan akan diiringi oleh warga dan pasukan perang dengan pakaian adat lengkap. (oleh frans aso )

—-> Pampang, 20 minutes from the terminal Lempake North Samarinda, East Kalimantan.

Head Ceremony Chieftains, in the tradition of the Dayak community life figure who is more respected than the government figures such as RT or Lurah. Traditional head into the central figure in the lives of indigenous peoples.

Any problems that arise in the middle of society, will be resolved if the chiefs to intervene. Traditional Head will usually be chosen from those who have royal blood.

Respect for customary chief would be carried out by people even up to the head of the Indigenous meningal world. Customary rites and rituals will be performed on a large scale involving all citizens. This is still happening in villages Pampang culture.

At the time of death Indigenous head, will in the Central disemanyamkan Indigenous Lamin, the body would rest for a few days with the goal waiting for the relatives of the various regions in the interior of East Kalimantan. For days the community work together hand in hand to prepare the cemetery, funeral and casket body. Casket body is made from ironwood logs large hole in the berries and inner be carved on the outside. While the location of the funeral home prepared ironwood shingle roofs to protect the grave, also prepared headstone made of logs carved ironwood.

At the scheduled time, the body / casket will be placed above the body of a series of dozens of bamboo stems and appointed by the hundreds of citizens. Funeral ritual will be led by a special person and a priest. During the procession will be accompanied by the citizens and the army with full traditional costume. (by frans aso)

Teliga Panjang , Long Ears

Saksikan atraksi budaya Dayak setiap hari minggu jam 14.00 s/d 15.00 di Lamin Pampang, 20 menit dari terminal Lempake samarinda.
Telinga Panjang menjadi ciri khas orang Dayak, pada jaman dahulu hampir semua orang Dayak baik laki laki maupun perenpuan bertelinga panjang. Menurut Amai Pebulung ( seorang tetua suku Dayak Pampang ), Orang dayak dahulu banyak hidup di hutan, ingin membedakan antara manusia dengan monyet, “Jika telinganya pendek berarti dia itu monyet…..” demikian dikatakan oleh amai Pebulung sambil tertawa terkekeh kekeh…

Untuk kaum wanita jika telinganya semakin panjang dan bandul telinganya semakin banyak maka dia semakin cantik. Untuk kaum lelakinya biasanya bandul telinganya dibuat ukir-ukiran.

Di desa Pampang masih ada beberapa ibu-ibu yang bertelinga panjang, dan juga beberapa tetua adat yang masih bertelinga panjang. Sementara itu untuk generasi mudanya sudah tidak lagi membuat teliga panjang ( oleh frans aso )

—-> Ear length is characteristic of the Dayaks, in the past almost everyone either male Dayak and long-eared women. According Amai Pebulung (A Pampang Dayak tribal elders), The first dayak many live in the forest, to distinguish between humans and monkeys, “If the short ears mean he’s a monkey …..” Thus Pebulung Amai said with a laugh …

For women if the ears get longer and more ear pendant she was more beautiful then. For the boys usually pendant ears made carvings.

In the village Pampang there are still some mothers who are ear length, and also some traditional elders who are long-eared. Meanwhile, for the younger generation no longer make long ears (by frans aso)

Burung Enggang

Saksikan Atraksi Budaya Suku Dayak setiap hari minggu jam 14.00 s/d 15.00 di Lamin Adat Pampang, 20 menit dari terminal Lempake Samarinda.
Enggang adalah burung khas asli Kalimantan, burung ini hidup bebas di belantara hutan Kalimantan. Burung Enggang memiliki kemampuan terbang amat tinggi dan amat jauh, sanggup terbang antar pulau. Biasanya beristirahat dan bersarang di puncak-puncak pohon yang tinggi. Keberadaan burung Enggang amat erat kaitannya dengan masyarakat suku Dayak.

Burung Enggang bisa dikatakan sebagai lambang kehidupan suku Dayak. Perpindahan burung Enggang dari satu tempat ke tempat lainnya melambangkan perpindahan suku Dayak dari satu daerah ke daerah lainnya pada masa lampau.

Hampir seluruh bagian tubuh burung Enggang ( bulu, kepala, paruh dll ) menjadi lambang lambang dan simbol kebesaran suku Dayak. Tak heran jika patung-patung burung Enggang menghiasi setiap tempat di Kalimantan Timur. ( oleh frans aso )

—-> Enggang are distinctive native birds of Borneo, these birds live freely in the jungles of Borneo jungle. Enggang has the ability to fly very high and very far away, capable of flying between islands. Usually rest and nest in the tops of tall trees. Enggang bird very existence is closely related to the Dayak tribe.

Enggang can be regarded as a symbol of the life of the Dayak tribe. Enggang bird migration from one place to another symbolizes the transfer of Dayak tribes from one region to another in the past.

Almost all parts of the body Enggang bird (feathers, head, beak, etc.) became the symbol of the emblem and symbol of the greatness of the Dayak tribe. No wonder the bird statues adorned Enggang every place in East Kalimantan. (By frans aso)

Senin, 28 September 2009

Soufenir Khas Pampang, Samarinda

Pampang, 20 menit dari terminal Lempake Samarinda

Jika kebetulan jalan jalan di kota Samarinda dan menyempatkan diri untuk berkunjung ke Lokasi Desa Budaya Dayak KenyahPampang, sayang untuk melewatkan tempat yang satu ini " UMA DADO SUNI ASO ".

Tempat yang sederhana, namun nyaman untuk singgah/istirahat sejenak. Dapatkan aneka hasil kerajinan khas Pampang yang dibuat oleh lepok Dayak Pampang ditempat ini. Asyiknya lagi, jika anda ingin mengabadikan kunjungan anda dengan berfoto memakai pakaian adat Dayak lengkap, anda bisa sewa pakaian dengan harga yang amat terjangkau. Andapun akan diberikan gratis kenangan berupa gelang antik. (oleh frans aso )

If the road accident in the town of Samarinda road and taking the time to visit the location Kenyah Pampang Dayak Cultural Village, a place dear to miss this one "UMA DADO SUNI ASO ".

Place a simple, yet convenient to stop / take a break. Get a variety of unique handicrafts made by Pampang Dayak People Pampang this place. Fun anymore, if you want to capture your visit with a picture taken wearing traditional Dayak complete, you can rent clothing at very affordable prices. You also memories will be given free of antique bracelet. (by frans aso)

Minggu, 27 September 2009

Tari Tradisional Suku Dayak


Saksikan hanya di Balai Lamin Adat Pampang Samarinda Kaltim,20 menit dari terminal lempake, setiap hari minggu jam 14.00 s/d 15.00 wita

Tari MENYUMPIT / Tari BERBURU , adalah tarian yang langka. tarian ini amat jarang dipentaskan, karena dalam tarian ini selain dituntut kepandaian dalam menari, namun penari juga harus memiliki keahlian dalam menggunakan senjata Tradisional SUMPIT.

Biasanya Tarian Sumpit hanya sekedar tarian dengan membawa senjata sumpit, namun berbeda dengan di Pampang. Tarian sumpit di Pampang selain sebuah rangkaian tarian, juga akan dipertontonkan cara menggunakan senjata Sumpit tersebut secara nyata. Anda akan melihat dengan mata kepala sendiri anak sumpit menancap di balok-balok kayu yang keras.

Ini adalah tarian langka, yang hanya bisa dilihat di Pampang, dan setiap menyaksikan tarian ini penonton akan senantiasa tegang dan heboh. Situasi akan semakin hebah jika Panglima Sumpit sendiri yang melakukan tarian tersebut. jika beruntung anda bisa berfoto dengan Panglima Sumpit. (oleh frans aso )

—-> Witnessed only in Central Lamin Samarinda Kaltim Indigenous Pampang, 20 minutes from the terminal lempake, every Sunday at 14:00 s / d 15:00 wita

SUMPIT Dance / Dance BERBURU, is a rare dance. This dance is very rarely performed, because in this dance than skill in dancing, but dancers must also have expertise in using weapons Traditional SUMPIT.

Chopsticks are sometimes dance performed, usually only dance with chopsticks weapons, but unlike in Pampang. Pampang chopstick dance in the dance circuit in addition ane, will also be shown how to use these weapons in real Chopsticks. You will see with my own eyes where child chopsticks stuck in the wooden beams that hard.

This is a rare dance, which can only be seen in Pampang, and every spectator watching this dance will always tense and excited. The situation will become Commander Chopsticks amazing own if doing the dance. if you are lucky you can take pictures with the Commander of the Chopsticks. (by frans aso)

Tari LELENG, tarian kebersamaan dengan pengunjung


Minggu, 27 September 2009 jam 14.00 s/d 15.00 wita
Taman Wisata Budaya Pampang, Samarinda Kaltim
20 menit dari terminal Lempake

Pengunjung Pampang hari ini membludak, hampir semua tempat duduk terisi dan dipenuhi oleh pengunjung yang ingin menyaksikan tarian khas suku Dayak Kenyah . pada awalnya pengunjung yang datang hanya beberapa mobil saja, namun begitu memasuki jam 14.00 wita, secara bergelombang pengunjung berdatangan. Para pengunjung terdiri dari wisatawan Lokal dan wisatawan asing, ada beberapa diantaranya adalah mahasiswa dari Polandia dan Jepang.

Tidak sia-sia karena tarian yang ditampilkan hari ini cukup lengkap, sehingga pengunjung kelihatan amat puas, tepuk tangan terdengar bergemuruh setiap menyaksikan tarian-tarian yang ditampilkan.

Jika anda menyaksikan tarian diPampang, maka jangan buru buru pulang, karena di tarian terakhir akan ditampilkan tarian LELENG, yaitu tarian kenersamaan, yang ditarikan oleh para penari yang telah tampil. Dalam tarian ini pengunjung diajak turut serta untuk ikut menari, hal ini bisa menjadi petualangan dan kenangan tersendiri bagi anda. Pada hari minggu ini para pengunjung amat antusias ikut menari dalam tarian LELENG.

Setelah tarian LELENG, anda bisa minta foto bersama dengan para penarinya, dengan ibu telinga panjang, atau dengan tetua suku. Tidak perlu takut, anda cukup beli tiket untuk foto dan katakan minta mau foto dengan siapa, maka orang yang anda maksud akan dipangilkan. Kalo beruntung anda bisa berfoto dengan Panglima Sumpit, karena panglima Sumpit (penari sumpit) kadang tidak mau diajak berfoto. (oleh frans aso )


Sunday, September 27, 2009 at 14:00 s / d 15:00 wita
Cultural Park Pampang, Samarinda East Kalimantan
20 minutes from the terminal Lempake

--->Visitor booming Pampang today, almost all the seats filled and filled with visitors who want to see the typical dance of Dayak Kenyah tribe. visitors who initially came only a few cars only, but once entered wita 14:00 hours, guests arriving in waves. The visitors consisted of local tourists and foreign tourists, there are a few of them are students from Poland and Japan.

Not in vain because the dances are presented fairly complete today, so the visitors looked very satisfied, thunderous applause every witness dances are shown.

If you watch the dance diPampang, so do not hurry hurry home, because in the last dance will be displayed LELENG dance, which dance kenersamaan, which danced by the dancers who have appeared. In this dance of guests invited to take part to participate in dance, this can be an adventure and special memories for you. On the day of this week the visitors danced very enthusiastically participate in the dance LELENG.

After the dance LELENG, you can ask for photos together with the dancers, with long ears mother, or with tribal elders. No need to fear, you just buy tickets for the photos and asked to photograph say with whom, the person you are meant to dipangilkan. Kalo lucky you can take pictures with the Commander of Chopsticks, because the commander of Chopsticks (dancer chopsticks) sometimes not wanted to have their pictures taken. (By frans aso)

Sabtu, 26 September 2009

Tarian ENGGANG TERBANG

Saksikan di Lamin Adat Pampang Samarinda Kaltim, setiap hari minggu jam 14.00 s/d 15.00 wita

Tarian Enggang terbang adalah tarian khas suku Dayak Kenyah. Ditarikan oleh sekelompok gadis suku dayak dengan mengenakan hiasan dikepala bermotif burung enggang.

Dalam setiap pementasan tarian di Desa Budaya Pampang, tarian ini menjadi tarian wajib, dan selalu ditarikan. Tarian enggang terbang ini mengisahkan perpindahan masyarakat Dayak dari satu tempat ke tempat lainnya secara berkelompok.

Selain tarian Enggang terbang beberapa tarian wajib yang hampir selalu ditarikan adalah : Tari Gong, Tari Anyam Tali, dan tari Undo’ Aban. Sebagai penutup lambang persatuan dan persahabatan akan ditampilkan tarian Leleng, dimana dalam tarian ini para pengunjung diundang bergabung untuk menari bersama sama.

—>Enggang Terbang dance is typical Dayak Kenyah tribe. Danced by a group of girls wearing the Dayak motif pat on the head ornaments of birds Enggang.

In each of the dance performances at the Culture Village Pampang, this dance became compulsory dances, and always danced. Enggang Terbang dance tells the Dayak movement from one place to another in groups.

In addition to several Enggang Terbang dance compulsory dance that is almost always danced: Gong Dance, Anyam Tali Dance , and dance Undo ‘Aban. In closing symbol of unity and friendship will be displayed Leleng dance, which in this dance of the guests invited to join together to dance togethe ( by frans aso )

Legenda Suku Dayak Kenyah

Atraksi kesenian Dayak Kenyah, setiap hari minggu jam 14.00 s/d 15.00 wita. di balai Lamin Adat Pampang, Samarinda Kaltim.

Apo Kayan, adalah suatu daerah yang tampak mencolok diantara kerimbunan belantara. Di antara perbukitan, hutan lebat . atap rumah penduduk akan terlihat memencar. Ini adalah daerah diujung utara Kalimantan Timur yang berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia. Terletak di dataran tinggi seluas 60 km2, Apo Kayan seperti menutup diri dari dunia luar. Selain jaraknya yang amat jauh dengan kota lain, alat transportasi ke Apo Kayan juga tak gampang.

Apo Kayan hanya bisa dijangkau dari 3 kota ; Samarinda, Tarakan dan Tanjung Selor. Dari tempat ini perjalanan bisa dilakukan lewat udara, menggunakan pesawat kecil seperti Merpati dan Cessna milik misionaris. Kecuali itu bisa juga di tempuh melalui transportasi sungai. Biasanya penduduk melewati sungai Kayan. Namun seringkali mengalami kesulitan, karena dihadang oleh Riam Afum yaitu niagara kecil sepanjang 35 km. Penduduk biasanya lebih memilih jalan melingkar, menghindari Riam Afum, dengan waktu tempuh lebih lama

Kehidupan di Apokayan sesungguhnya dapat ditelusuri disepanjang sungai Kayan. Penduduk daerah ini berjumlah sekitar 5200 jiwa, sebagian besar membuat rumah sepanjang tepian sungai. Disini terdapat dua kecamatan, yaitu kecamatan Kayan Hulu dan Kayan Hilir. Di Kayan Hulu terdapat lima desa yakni Long Ampung, Long Nawang, Nawang Baru, Long Temuyat dan Long Payau. Sedangkan di kayan hilir ada tiga desa, yaitu sei Anai, Metum I dan Data Dian.

Rumah rumah tinggal mereka masih khas. Uma’ Dado’ atau Lamin adalah rumah asli peninggalan Dayak Kenyah yang masih utuh. Bangunan ini dibuat dari kayu ulin, beratap sirap. Lamin dihiasi lukisan daun paku simetris dengan aneka warna. Bentuknya sebagian menyerupai tatto dibagian tangan kaum wanitanya. Mereka juga dikenal mahir membuat manik-manik dan pemahat handal patung Totem.

Kaum wanitanya cantik cantik. Kecuali bertatto, mereka juga dapat dikenali dengan saratnya anting gelang ditelinganya. Dalam acara acara tertentu, misalnya pesta perkawinan, mereka kerap menarikan Burung Enggang dan Tarian Gong. Belakangan tarian ini menjadi komoditas bagi para turis yang datang ke daerah itu. Pemandangan ini dapat dilihat di desa Long Bagun dan Long Iram. (oleh frans aso )

---> Apo Kayan, is an area that stood out among the jungle foliage. Among the hills, dense forests. roof of the house will be seen scattered population. This is the northern tip region of East Kalimantan, which borders directly with Sarawak, Malaysia. Located in the highlands area of 60 km2, Apo Kayan as closed to the outside world. Apart from a very far distance with other cities, transportation to the Apo Kayan is also not easy.
Apo Kayan can only be reached from the 3 cities; Samarinda, Tarakan and Tanjung Selor. From here the journey can be done through the air, using a small aircraft like Cessna's Merpati and missionaries. Unless it can also travel through river transportation. Usually the people through the Kayan River. But often have difficulty, because Afum Riam intercepted by the small niagara along 35 km. Residents usually prefer a roundabout route, avoiding Riam Afum, with a longer travel time

Life on the real Apokayan can be traced along the Kayan River. This area population numbered about 5200 people, most making a house along the riverside. Here there are two districts, ie districts Kayan Hulu and Kayan Hilir. In Kayan Hulu are five villages namely ampung Long, Long Nawang, Nawang Baru, Long and Long Temuyat Briny. Whereas in the downstream kayan three villages, namely sei Anai, Metum I and Data Dian.

Their residential houses were typical. Uma 'Dado' or Lamin is the original home Dayak Kenyah heritage intact. The building is made of ironwood, roof shingles. Lamin nails painted with symmetrical leaves with different colors. Its form resembles some of his tattoos in part women. They are also known to make good beads and sculptor sculpture Totem reliable.

Beautiful women are beautiful. Unless bertatto, they also can be identified by ear bracelets earrings condition. In certain events, such as weddings, they often dance and dance hornbill Gong. Later this dance is a commodity for tourists who come to the area. This scene can be seen in the village of Long Bagun and Long Iram. (By frans aso)

Tari Gong , tarian khas dayak Kenyah

Saksikan di Balai Lamin Adat Pampang, Samarinda Kaltim setiap hari minggu jam 14.00 s/d 15.00 wita.

Gadis-gadis suku Dayak Kenyah dikenal dengan kecantikannya. Mereka sebagian besar amat pandai menari, yang merupakan bagian tak terpisahkan dalam kehidupan sehari hari. Tari Gong menceritakan kemolekan seorang gadis yang menari dengan gemulai diatas sebuah gong, dimana gadis tersebut akan diperebutkan oleh 2 orang Pemuda Dayak yang gagah perkasa.

Kedua pemuda tersebut akan bertarung secara ksatria, sampai dengan salah satu diantaranya kalah. Dan akhirnya sang pemenang akan kembali bersama si gadis .

Saksikan tarian ini setiap hari minggu jam 14.00-15.00 wita. Di taman Wisata Budaya Pampang, Samarinda, kalimantan Timur. (by frans aso)

—> Girls Dayak Kenyah tribe known for its beauty. They are mostly very good at dancing, which is an integral part of daily life. Dance Gong told loveliness of a girl who danced with graceful steps on a gong, which she will be contested by 2 people who Dayak Youth gallant.

Both these young men will fight knights, until one of them lost. And finally the winner will be back with the girl.

Watch this dance every day of the week at 14.00-15.00 wita. Cultural Tourism in the park Pampang, Samarinda, East kalimantan. (by frans aso)

Jumat, 25 September 2009

Sampek, alat musik tradisional Dayak



Sampek adalah alat musik tradisional Suku Dayak, terbuat dari berbagai jenis kayu ( kayu arrow, kayu kapur, kayu ulin). Dibuat secara tradisional. Proses pembuatan bisa memakan waktu berminggu minggu. Dibuat dengan 3 senar, 4 senar dan 6 senar. Biasanya sampek akan diukir sesuai dengan keinginan pembuatnya, dan setiap ukiran memiliki arti.

Mendengarkan bunyi sampek yang mendayu dayu, seolah memiliki roh/kekuatan. Di Pampang banyak warga yang amat mahir memainkan sampek. Bunyi sampek biasa digunakan untuk mengiringi sebuah tarian, atau memberikan semangat bagi para pasukan perang. ( by frans aso )

—> Sampek is a traditional musical instrument Dayak tribes, made from various types of wood (wood arrow, lime wood, ironwood). Traditionally made. Making process could take weeks and weeks. Made with 3 strings, strings 4 and 6 strings. Usually Sampek be engraved according to the manufacturer desires, and every carving has a meaning.

Listening to the sound of the Sampek , as a spirit / strength. In Pampang many highly skilled people who play Sampek. The sound Sampek used to accompany a dance, or encouragement for the forces of war. (By frans aso)

Mandau Terbang , mitos atau fakta ?


Pada saat terjadianya kerusuhan antar Etnis di Sambas dan Sampit, banyak cerita berkembang tentang adanya fenomena Mandau Terbang : (Mandau yang bisa terbang mencari sasaran sindiri, bisa memilih dan memenggal leher musuh). Hal tersebut cukup menggetarkan dan membuat merinding siapapun yang mendegar.

Semua dikembalikan pada yang mendengar, boleh percaya boleh tidak. Namun demikian banyak kesaksian yang menguatkan kebenaran akan fenomena tersebut.

Apapun ceritanya harus digaris bawahi bahwa Mandau adalah senjata tradisional Suku Dayak . Mandau telah menjadi Simbol kekuatan, simbol keadilan, simbol persatuan dan sekaligus simbol kehidupan Suku Dayak.

Bagi orang Dayak, membawa mandau kemana-mana adalah hal biasa, tidak perlu dirisaukan. Untuk mencabut mandau tidak boleh sembarangan, ada aturannya. Mandau tidak boleh digunakan untuk mengancam orang lain, salah salah bisa mendapatkan denda secara adat. Mandau baru akan dicabut dari sarungnya hanya jika dalam mondisi amat terdesak untuk mempertahankan diri, dan konon setiap mandau keluar dari sarungnya harus mendapat korban.

Mandau terbang konon bisa dilakukan oleh para tetua Suku yang memiliki kesaktian tinggi, melalui ritual tertentu makan mandau tersebut akan melesat terbang mencari sasarannya, hampir dipastikan mandau tersebut tidak akan salah sasaran. Dan ritual Mandau terbang hanya akan dilakukan dalam kondisi yang amat darurat demi menpertahankan hidup.

Ada kesaksian yang tidak bisa diterima dengan akal sehat, kejadian di sampit beberapa tahun lalu dimana ada sekeluarga etnis cina, dengan seorang pembantu dari etnis tertentu. Rumah tersebut dalam kondisi tertutup, mereka semua ada didalam rumah, namun secara tiba-tiba leher sang pembantu tersebut terpotong bersimbah darah. Karena ketakutan dan trauma , maka tanpa fikir panjang satu keluarga etnis cina tersebut saat itu juga pergi meninggalkan rumah dengan hanya menbawa barang yang bisa dibawa seadanya kembali ke kota Malang . (frans aso)

---> At the time of inter-ethnic riots Occurrence in Sambas and Sampit, many developing story about the phenomenon Mandau Fly: (Mandau who could fly would auto target, can choose and decapitate the enemy). It is quite thrilling and make anyone shudder learn.

All returned to the hearing, believe it or not. However, many testimonies that confirmed the truth of these phenomena.

Whatever the story must be underlined that Mandau is a traditional weapon Dayak tribes. Mandau has become a symbol of strength, a symbol of justice, a symbol of unity and a symbol of the life of the Dayak tribe.

For the Dayak, bringing Mandau everywhere are common, no need to worry. To revoke Mandau should not be arbitrary, there are rules. Mandau not be used to threaten other people, either one could get the customary fine. New Mandau from its sheath will be withdrawn only if the conditions very driven to defend themselves, and said to each Mandau out of the holster must have victims.

Mandau flying could allegedly committed by tribe elders who have a higher supernatural power, through a certain ritual eating Mandau will be flying off to find the target, almost certainly Mandau will not misplaced. Mandau flies and ritual will be performed only in emergency conditions for very keep alive life.

There was testimony that can not be accepted by common sense, the incident in Sampit few years ago where there is ethnic Chinese family, with an attendant from a particular ethnic. The house is in a closed condition, they are all in the house, but suddenly the maid’s neck was cut with blood. Because of the fear and trauma, so he thought long without one ethnic Chinese family that was also left home with only take items can be brought back to the makeshift city of Malang. (frans aso)

Suku Dayak Kenyah Pampang


PAMPANG merupakan pilihan Wisata Budaya yang KHAS dan menarik di kota Samarinda. Kehidupan asli Suku Dayak Kenyah yang sebagian besar berasal dari pegunungan Apo Kayan yang berbatasan dengan Malaysia. Pampang mudah dijangkau dari pusat kota Samarinda. Dapat ditempuh hanya dalam waktu 40 menit dari pusat kota, dan hanya 20 menit dari terminal Lempake. Perjalanan ke Pampang dapat dilakukan dengan menggunakan kendaraan bermotor ( Sepeda motor, Mobil, Bus, taxi/angkot ).

===>Pampang is the one choise of specific and interested cultural Tour in Samarinda. The real life of Dayak Kenyah is from Apo Kayan mountains. Pampang is easy to reach from Samarinda only 40 minutes, and 20 minutes from halte of Lempake. Travelling to Pampang could ride by motorcycle, car, bus, taxi/other public transportation.

Mata pencaharian masyarakat Pampang adalah dari bertani, berkebun dan membuat kerajinan. Ditengah-tengah perkampungan berdiri kokoh Balai Lamin Adat, biasa disebut UMA’ DADO’, sebagai tempat pusat kesenian, dan tempat pertemuan Adat.

===>Almost all people in Pampang work as farmer, gardener or making some art. There is UMA’ DADO’, a traditional building in the middle of them, as a central living, as a central artistic & a place for traditional meeting.

Sebagai suku yang masih menjunjung tinggi nilai Adat dan Kesenian, warga Pampang secara rutin mengadakan Atraksi seni budaya tarian tradisional, yang merupakan tradisi Suku Dayak Kenyah secara turun temurun. Menyaksikan tarian ini, anda akan serasa dibawa kedalam petualangan kehidupan Suka Kenyah di pedalaman hutan Kalimantan. Berbagai jenis atraksi akan ditampilkan antara lain : **Tari Gong **Tari Perang **Tari pengusir Roh . Anda juga bisa menyaksikan secara langsung rahasia pemakaian senjata SUMPIT. Tak kalah menarik, diakhir acara anda bisa berfoto dengan ibu bertelinga Panjang, Para penari, atau gadis-gadis suku Kenyah yang dikenal cantik-cantik.

===> The people of Pampang, as traditional people, always attrac a traditional dance, which is a traditional dance of Dayak Kenyah. Watching this traditional dance, make us feel deep inside of the experience of Dayak Kenyah in Borneo Forest. All kind of dancing shown, such as : **Gong Dance **War Dance **Ghost Rappellent Dance, etc. You can also see the secret of using “SUMPIT”, and can take a picture with a woment who has long ears or the famous of beautiful Kenyah girls.

Atraksi Budaya tarian ini dapat disaksikan setiap : Hari minggu jam 14.00 -15.00 wita. Bertempat di : Balai Lami Adat Taman Wisata Budaya Pampang, Sei Siring, Samarinda, Kalimantan Timur. ***Jika Anda sedang berwisata atau melakukan perjalanan di Samarinda rasanya sayang jika moment ini dilewatkan ……!!!!

===> This traditional attraction coul see at : Sunday, star at 2.00pm until 3.00pm, Place : Balai Lamin Adat, Taman Wisata Budaya Pampang, Sei Siring Samarinda, East Borneo. *** If you on travelling in Samarinda, is not Complete before you come to Pampang…..!!!!