Jumat, 23 Oktober 2009

GIGI HITAM , black teeth

Saksikan atraksi seni dan budaya suku DAYAK, setiap hari minggu jam 14.00 s/d 15.00 di Lamin Pampang, 20 menit dari terminal Lempake Samarinda.
Warga Dayak beranggapan bahwa gigi hitam adalah cantik. Semakin hitam gigi, semakin baik. Alasannya untuk ini adalah bahwa dengan gigi hitam tidak terlihat oleh roh-roh, sehingga mereka mempercayai bahwa mereka telah terhindar sebagai bahaya dan dapat menjaga diri mereka sendiri.

Penghitaman dilakukan dengan pencelupan dengan membuat pasta dari daun tertentu yang mengandung tannin, dan erth whichin sangat kaya zat besi. Pasta ini menempel di gigi dan disimpan disuatu tempat sepanjang malam dengan sepotong daun pisang. Tannic asam tersebut yang membentuk warna gigi gigi. ( oleh frans aso )

—> The Dayaks find black teeth beautiful. The blacket the teeth, the better. The reason for this is problaby that black teeth are invisible to the spirits, who are thus led to suppose that they have been pulled out and offered as sacrifice to themselves.

The dyeing is done by making a paste of certain leaves containing tannin, and erth whichin very rich in iron. This paste is plastered over the teeth and kept in place all night by a piece of banana leaf. The tannic acid formed discolours the teeth. ( by frans aso )

KAWIN ADAT DAYAK

Saksikan atraksi seni dan budaya suku Dayak, setiap hari minggu jam 14.00 s/d 15.00 di Lamin Pampang, 20 menit dari Terminal Lempake Samarinda.
Seiring dengan arus modernisasi, maka tradisi dan budaya terkadang mulai tersamarkan bahkan terkikis ouforia berlabel modern. Hal tersebut juga tengah menimpa masyarakat Dayak, terutama yang telah tinggal diperkotaan. Sebagian besar dari mereka justru telah meninggalkan tradisi tersebut.

Disinilah keberadaan Desa Budaya Pampang menjadi teramat penting dan sentral sebagai Desa Cagar Budaya Suku Dayak Kenyah. Di tempat ini dengan segala kesederhanaan masyarakat dayak Kenyah berjuang mempertahankan tradisi dan budayanya. Selain atraksi kesenian rutin yang dilakukan setiap hari minggu, setiap acara pernikahan, akan selalu ditutup dengan ritual pernikahan adat.

Acara Pernikahan Adat ini masih dirasa penting oleh warga Pampang untuk mempertahankan tradisi leluhur. Biasanya dalam Pernikahan Adat akan diawali dari rumah mempelai berupa arak-arakan menuju Lamin (Rumah Pamjang tempat acara nikah adat). Sesampai di depan Lamin akan disambut oleh sederetan penari dan tetua suku, untuk dilakukan ritual penyambutan memasuki lamin sebagai syarat agar acara dapat berlangsung dengan baik dan lancar. Setelah itu mempelai akan diarak naik kedalam Balai Lamin untuk mengikuti acara puncak ritual nikah adat. Acara Nikah adat akan dipimpin oleh para Tetua Suku.

Setelah ritual selesai, acara akan diakhiri dengan atraksi tarian. Disini kedua mempelai dan keluarga mempelai diwajibkan untuk menyumbangkan tarian sebagai wujud suka cita. Setelah tarian selesai maka kedua mempelai akan diarak kembali menuju rumah. (oleh frans aso ) …

—-> Wedding Ceremony Dayak Kenyah,
Along with the current modernization, the traditions and culture began masked sometimes ouforia labeled eroded even modern. It would also override the Dayak community, especially those who have lived the cities. Most of them actually have to leave tradition.

Culture Village is where the existence of Pampang become extremely important and central as the Heritage Village Dayak Kenyah tribe. In this place with all the simplicity dayak Kenyah communities struggling to maintain tradition and culture. In addition to arts attractions routinely conducted every day of the week, every wedding, will always be closed with the customary marriage rites.

Traditional wedding event is still considered important by the citizens Pampang to maintain ancestral traditions. Usually in the Wedding Ceremony will be preceded by the bride’s house in the form of the procession to the Lamin (Long House where traditional marriage ceremony). Arriving in front of the Lamin will be greeted by an array of dancers and tribal elders, to be entered Lamin welcoming ritual as a condition for the event can go well and smoothly. After that the bride would be led into the Hall Lamin up to attend summit customary marriage rites. Marriage custom event will be led by Tribal Elders.

After the ritual finished, the event will end with a dance attractions. Here the bride and the bridegroom’s family is required to contribute a dance as a form of joy. After the dance is complete then the bride would be led back to the house. (by frans aso) …

Kepala Adat

Saksikan atraksi budaya Dayak setiap hari minggu jam 14.00 s/d 15.00 di Lamin Pampang, 20 menit dari terminal Lempake Samarinda.

Kepala Adat / Kepala Suku, dalam tradisi kehidupan masyarakat Dayak menjadi sosok yang lebih dihormati daripada tokoh pemerintahan seperti RT atau Lurah. Kepala Adat menjadi tokoh sentral dalam kehidupan masyarakat adat.

Segala permasalahan yang timbul ditengah masyarakat, akan terselesaikan apabila kepala adat turun tangan. Biasanya Kepala Adat akan dipilih dari orang yang memiliki keturunan bangsawan.

Penghormatan terhadap kepala Adat akan dilakukan oleh warga bahkan sampai dengan saat kepala Adat tersebut meningal dunia. Upacara dan ritual adat akan dilakukan secara besar besaran melibatkan seluruh warga. Hal tersebut masih terjadi di desa budaya Pampang.

Pada saat kepala Adat meninggal dunia, akan disemanyamkan di Balai Lamin Adat, jenasah akan disemayamkan selama beberapa hari dengan tujuan menunggu kedatangan sanak keluarga dari berbagai daerah di pedalaman Kaltim. Selama berhari-hari masyarakat secara bergotong royong bahu membahu mempersiapkan tempat pemakaman, upacara pemakaman dan peti jenasah. Peti jenasah dibuat dari gelondongan kayu ulin besar yang di beri lubang ditengahnya dan bagian luarnya akan diukir. Sementara di lokasi pemakaman disiapkan rumah dari kayu ulin beratap sirap untuk melindungi lubang kubur, juga disiapkan nisan terbuat dari gelondongan kayu ulin yang diukir.

Pada waktu yang telah dijadwalkan , jenasah/peti jenasah akan diletakkan diatas rangkaian puluhan batang bambu dan diangkat oleh ratusan warga. Ritual acara pemakaman akan dipimpin oleh orang khusus dan beberapa pendeta. Selama arak-arakan akan diiringi oleh warga dan pasukan perang dengan pakaian adat lengkap. (oleh frans aso )

—-> Pampang, 20 minutes from the terminal Lempake North Samarinda, East Kalimantan.

Head Ceremony Chieftains, in the tradition of the Dayak community life figure who is more respected than the government figures such as RT or Lurah. Traditional head into the central figure in the lives of indigenous peoples.

Any problems that arise in the middle of society, will be resolved if the chiefs to intervene. Traditional Head will usually be chosen from those who have royal blood.

Respect for customary chief would be carried out by people even up to the head of the Indigenous meningal world. Customary rites and rituals will be performed on a large scale involving all citizens. This is still happening in villages Pampang culture.

At the time of death Indigenous head, will in the Central disemanyamkan Indigenous Lamin, the body would rest for a few days with the goal waiting for the relatives of the various regions in the interior of East Kalimantan. For days the community work together hand in hand to prepare the cemetery, funeral and casket body. Casket body is made from ironwood logs large hole in the berries and inner be carved on the outside. While the location of the funeral home prepared ironwood shingle roofs to protect the grave, also prepared headstone made of logs carved ironwood.

At the scheduled time, the body / casket will be placed above the body of a series of dozens of bamboo stems and appointed by the hundreds of citizens. Funeral ritual will be led by a special person and a priest. During the procession will be accompanied by the citizens and the army with full traditional costume. (by frans aso)

Teliga Panjang , Long Ears

Saksikan atraksi budaya Dayak setiap hari minggu jam 14.00 s/d 15.00 di Lamin Pampang, 20 menit dari terminal Lempake samarinda.
Telinga Panjang menjadi ciri khas orang Dayak, pada jaman dahulu hampir semua orang Dayak baik laki laki maupun perenpuan bertelinga panjang. Menurut Amai Pebulung ( seorang tetua suku Dayak Pampang ), Orang dayak dahulu banyak hidup di hutan, ingin membedakan antara manusia dengan monyet, “Jika telinganya pendek berarti dia itu monyet…..” demikian dikatakan oleh amai Pebulung sambil tertawa terkekeh kekeh…

Untuk kaum wanita jika telinganya semakin panjang dan bandul telinganya semakin banyak maka dia semakin cantik. Untuk kaum lelakinya biasanya bandul telinganya dibuat ukir-ukiran.

Di desa Pampang masih ada beberapa ibu-ibu yang bertelinga panjang, dan juga beberapa tetua adat yang masih bertelinga panjang. Sementara itu untuk generasi mudanya sudah tidak lagi membuat teliga panjang ( oleh frans aso )

—-> Ear length is characteristic of the Dayaks, in the past almost everyone either male Dayak and long-eared women. According Amai Pebulung (A Pampang Dayak tribal elders), The first dayak many live in the forest, to distinguish between humans and monkeys, “If the short ears mean he’s a monkey …..” Thus Pebulung Amai said with a laugh …

For women if the ears get longer and more ear pendant she was more beautiful then. For the boys usually pendant ears made carvings.

In the village Pampang there are still some mothers who are ear length, and also some traditional elders who are long-eared. Meanwhile, for the younger generation no longer make long ears (by frans aso)

Burung Enggang

Saksikan Atraksi Budaya Suku Dayak setiap hari minggu jam 14.00 s/d 15.00 di Lamin Adat Pampang, 20 menit dari terminal Lempake Samarinda.
Enggang adalah burung khas asli Kalimantan, burung ini hidup bebas di belantara hutan Kalimantan. Burung Enggang memiliki kemampuan terbang amat tinggi dan amat jauh, sanggup terbang antar pulau. Biasanya beristirahat dan bersarang di puncak-puncak pohon yang tinggi. Keberadaan burung Enggang amat erat kaitannya dengan masyarakat suku Dayak.

Burung Enggang bisa dikatakan sebagai lambang kehidupan suku Dayak. Perpindahan burung Enggang dari satu tempat ke tempat lainnya melambangkan perpindahan suku Dayak dari satu daerah ke daerah lainnya pada masa lampau.

Hampir seluruh bagian tubuh burung Enggang ( bulu, kepala, paruh dll ) menjadi lambang lambang dan simbol kebesaran suku Dayak. Tak heran jika patung-patung burung Enggang menghiasi setiap tempat di Kalimantan Timur. ( oleh frans aso )

—-> Enggang are distinctive native birds of Borneo, these birds live freely in the jungles of Borneo jungle. Enggang has the ability to fly very high and very far away, capable of flying between islands. Usually rest and nest in the tops of tall trees. Enggang bird very existence is closely related to the Dayak tribe.

Enggang can be regarded as a symbol of the life of the Dayak tribe. Enggang bird migration from one place to another symbolizes the transfer of Dayak tribes from one region to another in the past.

Almost all parts of the body Enggang bird (feathers, head, beak, etc.) became the symbol of the emblem and symbol of the greatness of the Dayak tribe. No wonder the bird statues adorned Enggang every place in East Kalimantan. (By frans aso)

Senin, 28 September 2009

Soufenir Khas Pampang, Samarinda

Pampang, 20 menit dari terminal Lempake Samarinda

Jika kebetulan jalan jalan di kota Samarinda dan menyempatkan diri untuk berkunjung ke Lokasi Desa Budaya Dayak KenyahPampang, sayang untuk melewatkan tempat yang satu ini " UMA DADO SUNI ASO ".

Tempat yang sederhana, namun nyaman untuk singgah/istirahat sejenak. Dapatkan aneka hasil kerajinan khas Pampang yang dibuat oleh lepok Dayak Pampang ditempat ini. Asyiknya lagi, jika anda ingin mengabadikan kunjungan anda dengan berfoto memakai pakaian adat Dayak lengkap, anda bisa sewa pakaian dengan harga yang amat terjangkau. Andapun akan diberikan gratis kenangan berupa gelang antik. (oleh frans aso )

If the road accident in the town of Samarinda road and taking the time to visit the location Kenyah Pampang Dayak Cultural Village, a place dear to miss this one "UMA DADO SUNI ASO ".

Place a simple, yet convenient to stop / take a break. Get a variety of unique handicrafts made by Pampang Dayak People Pampang this place. Fun anymore, if you want to capture your visit with a picture taken wearing traditional Dayak complete, you can rent clothing at very affordable prices. You also memories will be given free of antique bracelet. (by frans aso)

Minggu, 27 September 2009

Tari Tradisional Suku Dayak


Saksikan hanya di Balai Lamin Adat Pampang Samarinda Kaltim,20 menit dari terminal lempake, setiap hari minggu jam 14.00 s/d 15.00 wita

Tari MENYUMPIT / Tari BERBURU , adalah tarian yang langka. tarian ini amat jarang dipentaskan, karena dalam tarian ini selain dituntut kepandaian dalam menari, namun penari juga harus memiliki keahlian dalam menggunakan senjata Tradisional SUMPIT.

Biasanya Tarian Sumpit hanya sekedar tarian dengan membawa senjata sumpit, namun berbeda dengan di Pampang. Tarian sumpit di Pampang selain sebuah rangkaian tarian, juga akan dipertontonkan cara menggunakan senjata Sumpit tersebut secara nyata. Anda akan melihat dengan mata kepala sendiri anak sumpit menancap di balok-balok kayu yang keras.

Ini adalah tarian langka, yang hanya bisa dilihat di Pampang, dan setiap menyaksikan tarian ini penonton akan senantiasa tegang dan heboh. Situasi akan semakin hebah jika Panglima Sumpit sendiri yang melakukan tarian tersebut. jika beruntung anda bisa berfoto dengan Panglima Sumpit. (oleh frans aso )

—-> Witnessed only in Central Lamin Samarinda Kaltim Indigenous Pampang, 20 minutes from the terminal lempake, every Sunday at 14:00 s / d 15:00 wita

SUMPIT Dance / Dance BERBURU, is a rare dance. This dance is very rarely performed, because in this dance than skill in dancing, but dancers must also have expertise in using weapons Traditional SUMPIT.

Chopsticks are sometimes dance performed, usually only dance with chopsticks weapons, but unlike in Pampang. Pampang chopstick dance in the dance circuit in addition ane, will also be shown how to use these weapons in real Chopsticks. You will see with my own eyes where child chopsticks stuck in the wooden beams that hard.

This is a rare dance, which can only be seen in Pampang, and every spectator watching this dance will always tense and excited. The situation will become Commander Chopsticks amazing own if doing the dance. if you are lucky you can take pictures with the Commander of the Chopsticks. (by frans aso)